
“Ia memanggil murid-murid-Nya kepada-Nya, lalu memilih dari antara mereka dua belas orang, yang disebut-Nya rasul.” Lukas 6:13 · Pesta Santo Simon dan Santo Yudas, Rasul
Bacalah daftar kedua belas rasul dalam Injil Lukas (6:14–16) pelan-pelan. Di urutan depan ada nama-nama yang akrab di telinga: Simon yang diberi nama Petrus, Andreas, Yakobus dan Yohanes. Di urutan belakang, tepat sebelum nama yang paling kelam, Yudas Iskariot, terselip dua nama yang jarang kita pikirkan: Simon yang disebut orang Zelot, dan Yudas anak Yakobus.
DUA BELAS RASUL · LUKAS 6:14–16
- 1Simon Petrus
- 2Andreas
- 3Yakobus
- 4Yohanes
- 5Filipus
- 6Bartolomeus
- 7Matiuspemungut cukai
- 8Tomas
- 9Yakobusanak Alfeus
- 10Simonorang Zelot
- 11Yudasanak Yakobus
- 12Yudas Iskariot
Hari ini, 28 Oktober, Gereja merayakan keduanya. Yang mengherankan, Injil hampir tidak bercerita apa-apa tentang mereka. Simon tidak pernah berbicara sepatah kata pun dalam keempat Injil. Yudas hanya sekali mengajukan pertanyaan. Selebihnya sunyi.
Namun nama mereka tercatat di antara orang-orang yang dipilih Yesus untuk meneruskan karya-Nya. Barangkali di situlah penghiburannya. Tidak semua orang yang setia kepada Tuhan menjadi tokoh yang banyak dibicarakan. Iman sering diwariskan lewat orang-orang yang namanya jarang disebut.
Kita sendiri mungkin tak mengenal semua orang yang dahulu membawa iman ke kampung dan keluarga kita: guru agama yang berjalan kaki ke stasi, katekis yang mengajar di bawah pohon, orang tua yang mengajarkan tanda salib sebelum tidur. Nama mereka tidak tercatat di mana pun. Tetapi berkat merekalah Injil sampai kepada kita.
Seorang Zelot di samping pemungut cukai
Lukas mencatat satu detail yang mudah terlewat: sebelum memilih kedua belas rasul, Yesus naik ke bukit dan semalam-malaman berdoa kepada Allah (Luk 6:12). Pagi harinya, barulah Ia memanggil murid-murid-Nya dan memilih dua belas orang. Pemilihan itu lahir dari doa. Para rasul tidak mendaftar untuk sebuah jabatan. Mereka dipanggil.
Lalu lihatlah siapa yang dipanggil. Dalam daftar yang sama ada Matius, pemungut cukai yang bekerja untuk kekuasaan Romawi, dan Simon yang dijuluki orang Zelot. Sebutan itu bisa berarti seorang yang bersemangat menyala-nyala bagi hukum Tuhan, bisa juga menunjuk kalangan yang menentang penjajahan Romawi. Para ahli masih berbeda pendapat. Namun dalam pengertian mana pun, sulit membayangkan dua orang yang lebih tidak cocok duduk semeja: yang satu dicap pengkhianat bangsa, yang lain bisa jadi memandang orang seperti itu dengan amarah.
Yesus memanggil keduanya, dan Ia tidak memilih orang yang sudah jadi. Injil terang-terangan menunjukkan para rasul yang sering salah mengerti, yang bertengkar soal siapa yang terbesar, dan yang lari tercerai-berai ketika Guru mereka ditangkap.
Panggilan bagi mereka adalah awal pembentukan, bukan tanda kelulusan.
Itu juga kisah kita. Kita bisa bersemangat hari ini dan ragu esok hari. Kita melayani dengan tulus pada satu saat, lalu sibuk dengan diri sendiri pada saat yang lain. Tuhan tidak berhenti membentuk murid-murid-Nya, juga sesudah mereka gagal.
Pertanyaan Yudas
Yudas anak Yakobus berbicara satu kali saja dalam Injil. Pada malam perjamuan terakhir, ketika Yesus berkata akan menyatakan diri kepada orang yang mengasihi-Nya, Yudas bertanya: “Tuhan, apakah sebabnya maka Engkau hendak menyatakan diri-Mu kepada kami, dan bukan kepada dunia?” (Yoh 14:22). Penginjil merasa perlu menambahkan keterangan “bukan Yudas Iskariot”, supaya pembaca tidak keliru.
Kekeliruan itu ternyata bertahan lama. Konon karena namanya mirip dengan si pengkhianat, banyak orang Kristen enggan memohon perantaraannya, sampai Santo Yudas Tadeus dikenang sebagai pelindung perkara-perkara yang tampak tanpa harapan. Rasul yang hampir terlupakan itu justru menjadi tempat berlari bagi mereka yang merasa dilupakan.
Kita tak tahu persis isi hati Yudas ketika bertanya. Tetapi pertanyaannya menyimpan sesuatu yang penting: perjumpaan dengan Kristus melahirkan kerinduan agar orang lain pun mengenal-Nya. Iman bukan harta untuk disimpan sendiri.
Membagikan iman tidak selalu berarti berbicara panjang tentang agama. Ada kalanya orang memerlukan penjelasan. Lebih sering mereka pertama-tama memerlukan sahabat yang mau mendengarkan. Seorang ibu yang mendampingi anaknya dalam kesulitan, seorang guru yang tak menyerah pada murid yang tertinggal, seorang tetangga yang datang ke rumah duka membawa termos kopi: dari mereka orang mulai bertanya, dari mana datangnya kesabaran dan perhatian seperti itu.
Dari pintu yang terkunci
Para rasul tidak langsung menjadi pewarta yang berani. Sesudah Yesus disalibkan, harapan mereka runtuh dan pintu-pintu dikunci karena takut. Tuhan yang bangkit menjumpai mereka di sana. Pada hari Pentakosta, Roh Kudus mengubah orang-orang yang bersembunyi menjadi saksi yang keluar ke jalan. Keberanian mereka bukan hasil watak yang kuat, melainkan buah rahmat.
Tentang perjalanan Simon dan Yudas sesudah itu, sejarah tak banyak memberi kepastian. Tradisi mengenang keduanya sebagai pewarta Injil yang pergi jauh, dan sebagian tradisi menghubungkan mereka dengan Persia. Gereja juga menghormati mereka sebagai martir, meski rincian tentang tempat dan cara kematian mereka tak semuanya bisa dipastikan. Kita perlu jujur membedakan yang sungguh diketahui dari kisah yang tumbuh kemudian. Namun satu hal tak diragukan: iman para rasul sampai kepada kita lewat orang-orang yang rela memberikan diri, dan yang mereka wartakan bukan diri sendiri, melainkan Yesus.
Perutusan itu belum selesai. Para uskup meneruskan pelayanan para rasul lewat suksesi apostolik, tetapi setiap orang yang dibaptis dan menerima Penguatan ikut mengambil bagian. Imam menghadirkan Kristus lewat sabda, sakramen, dan kedekatan dengan umat. Orang tua mewartakan-Nya lewat cara mereka mengasihi, mengampuni, dan mendidik. Orang muda bersaksi lewat pilihan yang jujur, juga ketika pilihan itu tak populer di antara teman-teman.
Seorang anggota KBG yang memperhatikan tetangganya yang mulai jarang hadir, lalu datang berkunjung, mendengarkan tanpa menghakimi, dan menghubungkannya dengan orang yang bisa menolong, sedang menjalankan tugas yang sama dengan Simon dan Yudas. Tindakan itu tampak kecil. Tetapi di sana seseorang mengalami bahwa ia tidak sendirian.
Maka pertanyaan Yudas pada malam itu bisa kita balikkan kepada diri sendiri: bagaimana Kristus akan dikenal dunia, kalau tidak lewat hidup kita? Cara kita membicarakan orang lain, memperlakukan yang berbeda pendapat, menanggapi orang yang meminta tolong, dan memakai kepercayaan yang diberikan kepada kita, semuanya membuka atau menutup jalan bagi orang untuk melihat wajah-Nya.
Mungkin ada seseorang yang perlu kita hubungi lagi setelah lama diabaikan. Mungkin ada yang menunggu permintaan maaf. Kita tak harus menyelesaikan semua persoalan dunia hari ini. Cukup satu tindakan kasih bagi orang di dekat kita.
Simon dan Yudas tidak meninggalkan banyak kata. Nama mereka hanya terselip di ujung daftar. Tetapi Gereja mengenang mereka hampir dua ribu tahun kemudian, karena kesetiaan tidak diukur dari berapa sering nama kita disebut, melainkan dari berapa banyak orang yang akhirnya mengenal Kristus lewat hidup kita.
