
“Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu… Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” Matius 22:37–39 · Minggu Biasa XXX
Menurut Talmud, seorang rabi bernama Simlai pernah menghitung isi Taurat dan sampai pada angka 613. Ada 365 larangan, sebanyak hari dalam setahun, dan 248 perintah, sebanyak anggota tubuh manusia menurut hitungan orang zaman itu. Seolah setiap hari punya larangannya sendiri dan setiap anggota badan punya kewajibannya sendiri. Hitungan itu indah, tetapi juga melelahkan. Dari 613 ketentuan, mana yang paling penting? Para rabi memperdebatkannya turun-temurun.
Pertanyaan itulah yang dibawa seorang ahli Taurat kepada Yesus dalam Injil Minggu ini (Mat 22:34–40). Matius mencatat suasananya. Orang-orang Farisi baru saja mendengar bahwa Yesus membungkam kaum Saduki, lalu mereka berkumpul. Seorang dari mereka bertanya untuk mencobai-Nya: “Guru, hukum manakah yang terutama dalam hukum Taurat?”
Pertanyaan jebakan itu sebenarnya juga pertanyaan kita. Kita hidup dikepung aturan: aturan rumah, aturan kantor, aturan adat, aturan Gereja. Lama-lama kita mahir menaati dan lupa menimbang mana yang pokok dan mana yang pelengkap. Yesus tidak masuk ke perdebatan tentang peringkat hukum. Ia menjawab dengan dua kalimat: kasihilah Allah dengan segenap hati, jiwa, dan akal budi; kasihilah sesamamu seperti dirimu sendiri. Pada dua perintah itu, kata-Nya, tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi. Aturan tetap penting, tetapi ia baru menemukan artinya ketika menolong orang untuk mengasihi.
Datang membawa daftar
Hubungan kita dengan Allah hampir selalu dimulai dari kebutuhan. Kita berdoa ketika anak demam, ketika usaha sedang seret, ketika hasil pemeriksaan dokter belum keluar. Itu tidak salah, sebab Yesus sendiri mengajar kita meminta roti setiap hari. Namun kita semua mengenal beda antara orang yang datang karena perlu dan orang yang datang karena sayang. Yang pertama menghilang setelah urusannya selesai. Yang kedua tetap duduk di beranda walaupun tak ada yang bisa dibawa pulang.
Perintah pertama mengajak kita bertumbuh dari jenis pertama menuju jenis kedua. Allah layak dikasihi karena siapa Dia, tidak hanya karena apa yang Ia berikan. Mengasihi-Nya dengan segenap hati berarti menaruh-Nya di pusat hidup. Mengasihi-Nya dengan segenap jiwa berarti menyerahkan seluruh keberadaan kita. Mengasihi-Nya dengan segenap akal budi berarti membiarkan pertimbangan dan keputusan kita dibentuk oleh kebenaran-Nya. Kasih semacam itu tidak berhenti di bangku gereja. Ia ikut ke meja kerja, ke pasar, ke ruang rapat.
Doa Bapa Kami menyimpan peta yang sama. Setelah menyapa Bapa, kita memohon: “Dimuliakanlah nama-Mu, datanglah Kerajaan-Mu.” Permohonan pertama mengarah pada kasih kepada Allah, yakni mengakui kekudusan Dia yang dalam penglihatan Yesaya disapa para serafim, “Kudus, kudus, kudus.” Allah tidak memerlukan pujian kita untuk menjadi mulia. Kitalah yang perlu menempatkan diri dengan benar di hadapan-Nya.
Nama-Nya pun dimuliakan lewat hal-hal yang tak tercantum dalam liturgi: kejujuran ketika tak ada yang mengawasi, kesetiaan pada tanggung jawab, keputusan untuk tidak melukai. Permohonan kedua mengarah pada sesama. Kerajaan Allah hadir ketika kasih-Nya menjadi dasar hubungan antarmanusia. Orang tak bisa sungguh-sungguh memohon Kerajaan itu datang sambil merendahkan manusia yang diciptakan menurut gambar-Nya.
Yang tetap tinggal
Di sinilah Bapa Kami membuka sesuatu yang jarang kita pikirkan. Sekitar enam belas abad lalu, Agustinus dari Hippo memperhatikan bahwa dari tujuh permohonan dalam doa itu, tiga menyangkut hal-hal kekal dan empat menyangkut kebutuhan hidup sekarang (Enchiridion, 115). Roti harian, pengampunan dosa, perlindungan dari pencobaan dan dari yang jahat: semuanya kita minta karena kita masih di perjalanan. Di kehidupan yang akan datang, tulis Agustinus, tak satu pun kebutuhan itu tersisa. Tidak ada dosa yang perlu diampuni dan tidak ada pencobaan yang perlu dihindari.
TUJUH PERMOHONAN BAPA KAMI
- Dimuliakanlah nama-Mu
- Datanglah Kerajaan-Mu
- Jadilah kehendak-Mu di atas bumi seperti di dalam surga
- Berilah kami rezeki pada hari ini
- Ampunilah kesalahan kami, seperti kami pun mengampuni yang bersalah kepada kami
- Janganlah masukkan kami ke dalam pencobaan
- Bebaskanlah kami dari yang jahat
Dengan kata lain, sebagian besar doa kita kelak akan pensiun. Daftar permohonan yang setiap malam kita bawa, kadang panjang dan kadang tergesa, suatu hari tak lagi diperlukan. Yang tidak ikut pensiun hanyalah kasih. Di sana kita tetap memuliakan nama-Nya, kali ini tanpa dihalangi dosa dan kelemahan. Kasih kepada sesama pun mencapai kepenuhannya bersama para malaikat dan orang kudus, tanpa iri hati dan tanpa persaingan. Paulus sudah lama mengatakannya kepada jemaat Korintus: kasih tidak berkesudahan (1 Kor 13:8).
Maka dua hukum kasih itu lebih dari pedoman hidup di dunia. Keduanya adalah latihan untuk hidup yang akan datang.
Banyak yang akan kita tinggalkan ketika pergi, dan kasih tidak termasuk di dalamnya.
Di tempat yang sepi
Persoalannya, latihan itu jarang berlangsung bersama orang yang menyenangkan. Mengasihi orang yang menghargai kita itu mudah. Ujiannya datang dari tetangga yang tak tahu berterima kasih, rekan yang pernah menjatuhkan nama kita, atau keluarga yang lukanya belum kering. Yesus tidak meminta kita menyukai semua orang, karena perasaan hangat tak selalu bisa dipaksa. Yang diminta ialah menghormati martabat mereka, tidak membalas kejahatan dengan kejahatan, dan mengusahakan kebaikan sejauh mungkin. Kasih juga tidak berarti membiarkan diri terus diinjak. Kadang ia menuntut keberanian mengatakan yang benar dan menarik batas yang sehat. Yang tidak boleh ialah menjadikan kebencian dasar dari tindakan kita.
Sementara itu, kita sibuk mengejar hal-hal yang kelak ditinggalkan: jabatan yang punya masa berlaku, harta yang tak ikut dikubur, pengakuan yang cepat dilupakan. Latihan kasih justru berlangsung di tempat yang sepi dari tepuk tangan. Seorang anak setiap pagi memandikan ibunya yang sudah renta. Seorang istri bertahun-tahun merawat suaminya yang sakit. Seorang tetangga diam-diam mengantar beras ke rumah yang dapurnya tak lagi berasap. Seseorang memilih mengampuni padahal punya cukup alasan untuk mendendam. Tak ada yang mencatat semua itu. Namun di situlah kita sedang berlatih untuk sesuatu yang bertahan selamanya.
Karena itu, pertanyaan Minggu ini tidak berhenti pada apakah kita rajin ke gereja dan teratur berdoa. Apakah doa membuat kita lebih rendah hati? Apakah Ekaristi membuat kita lebih peka pada penderitaan orang lain? Bila hidup beragama tidak membuat kasih kita makin nyata, ada yang perlu diperiksa ulang.
Suatu hari, daftar permohonan kita akan pensiun satu per satu: roti, ampun, perlindungan. Yang tak akan pensiun hanyalah dua kalimat yang dulu diucapkan Yesus kepada seorang ahli Taurat yang hendak menjebak-Nya. Selagi masih ada waktu, kita perlu fasih mengucapkannya sekarang, dengan tangan dan kaki, tidak hanya dengan bibir.
