Induk Ayam dan Serigala

“Yerusalem, Yerusalem, engkau yang membunuh nabi-nabi dan melempari dengan batu orang-orang yang diutus kepadamu! Berkali-kali Aku rindu mengumpulkan anak-anakmu, sama seperti induk ayam mengumpulkan anak-anaknya di bawah sayapnya, tetapi kamu tidak mau.” Lukas 13:34 · Kamis Pekan Biasa XXX

Ada detail kecil dalam Injil hari ini (Luk 13:31–35) yang diam-diam menyimpan kejutan. Beberapa orang Farisi datang memperingatkan Yesus bahwa Herodes hendak membunuh-Nya. Yesus tidak lari. Ia menjawab dengan nada yang nyaris mengejek: “Pergilah dan katakanlah kepada si serigala itu: Aku mengusir setan dan menyembuhkan orang, pada hari ini dan besok.” Dalam bahasa Yunani, kata yang dipakai Lukas adalah alōpēx · rubah, binatang licik yang memangsa di kandang.

Beberapa kalimat kemudian, Yesus memakai gambaran binatang lagi, kali ini untuk diri-Nya. Ia tidak memilih singa, elang, atau gembala bertongkat. Ia memilih induk ayam: “Berkali-kali Aku rindu mengumpulkan anak-anakmu, seperti induk ayam mengumpulkan anak-anaknya di bawah sayapnya, tetapi kamu tidak mau.”

Di tempat mana pun, orang tahu apa yang terjadi ketika rubah masuk kandang. Induk ayam tidak punya taring dan tidak sanggup melawan. Yang bisa ia lakukan hanya memanggil anak-anaknya, membuka sayap, dan menjadikan tubuhnya sendiri tameng. Bila rubah menerkam, yang pertama kena adalah dia. Gambaran itu menyimpan sesuatu yang menggetarkan. Yesus tidak menjanjikan perlindungan dengan cara menaklukkan si pemangsa. Ia melindungi dengan cara menanggung serangannya, dan beberapa hari kemudian di Yerusalem, itulah yang sungguh terjadi.

Ia membuka sayap dan menanggung terkaman. Tetapi tidak semua anak mau datang.

“Tetapi kamu tidak mau”

Lalu Yesus menyebut nama kota itu dua kali: “Yerusalem, Yerusalem.” Dalam Kitab Suci, nama yang dipanggil dua kali selalu menandakan kedekatan yang perih: “Marta, Marta”, “Saulus, Saulus.” Yerusalem adalah kota Bait Allah, tempat umat datang merayakan kehadiran Tuhan. Kota yang sama berkali-kali menolak dan membunuh para nabi yang diutus kepadanya. Yesus sedang berjalan ke sana dan tahu apa yang menanti-Nya. Ratapan-Nya tidak terdengar seperti hakim yang puas menjatuhkan vonis. Ia terdengar seperti induk yang melihat bahaya datang, sementara anak-anaknya berlarian ke arah yang salah.

Kalimat terberat dalam perikop ini justru yang paling pendek: tetapi kamu tidak mau. Allah merindukan, tetapi tidak memaksa. Kasih yang sejati selalu memberi ruang untuk ditolak.

Allah merindukan, tetapi tidak memaksa. Kasih yang sejati selalu memberi ruang untuk ditolak.

Banyak orang tua mengenal rasa itu. Seorang ibu melihat anaknya terseret pergaulan yang merusak. Ia sudah bicara, mendengarkan, menasihati, bahkan mencari bantuan. Anaknya tetap menutup pintu kamar. Ibu itu tidak berhenti mengasihi, tetapi ia juga tak bisa menyeret anaknya masuk ke dalam pelukan. Pengalaman manusia tentu tak bisa disamakan begitu saja dengan hubungan Allah dan manusia. Namun ia membantu kita mengerti bahwa kasih bisa ditolak, dan penolakan itu melukai.

Kita pun bisa memilih tetap jauh: mempertahankan kebiasaan yang melukai, menunda permintaan maaf, menutup telinga terhadap kebenaran yang sebenarnya sudah kita ketahui. Kita sering membayangkan dosa sebagai pelanggaran aturan. Injil hari ini menunjukkan wajahnya yang lain: dosa adalah anak ayam yang menolak dipanggil pulang, lalu menjauh dari satu-satunya sayap yang hendak melindunginya.

Dari takut menjadi rindu

Lalu mengapa orang berhenti berbuat dosa? Pada awal perjalanan iman, sering kali karena takut akan akibat atau hukuman. Itu tidak salah. Katekismus Gereja Katolik menyebut penyesalan semacam itu atritio, sesal yang belum sempurna, dan mengakuinya sebagai langkah awal yang baik (KGK 1453). Tetapi iman tidak berhenti di sana. Ada sesal yang lahir dari kasih kepada Allah, dan Gereja menyebutnya sesal yang sempurna (KGK 1452). Tradisi rohani membedakan takut seorang budak terhadap tuannya dari takut seorang anak yang tidak mau mengecewakan bapanya.

Bandingkan dua anak yang sama-sama tidak berbohong. Yang satu jujur karena takut dimarahi. Yang lain jujur karena tahu kebohongan akan merusak kepercayaan ayahnya, dan ia tidak mau kehilangan kepercayaan itu. Perilakunya sama, hatinya berbeda.

Dari situ pertobatan berubah rupa. Ia lebih dari rasa bersalah yang menggerogoti. Ia adalah gerakan pulang: mengakui kesalahan, menerima belas kasih, lalu memperbaiki apa yang masih bisa diperbaiki.

Kita terbiasa berdoa agar Yesus menghibur hati kita. Itu doa yang baik. Namun perikop ini membalik arahnya. Hati Yesus pun bisa dihibur, dan yang menghiburnya adalah hidup yang kembali kepada-Nya. Ia sendiri berkata bahwa ada sukacita di surga karena satu orang berdosa yang bertobat (Luk 15:7). Allah tidak menjadi lebih sempurna karena pertobatan kita. Ia bersukacita karena Ia sungguh mengasihi.

Pertobatan memang jarang terjadi seketika. Ada kebiasaan yang keras kepala dan luka yang butuh waktu untuk pulih. Tuhan tahu itu. Yang Ia minta hanyalah anak ayam yang mau berbalik arah, betapapun pelan langkahnya.

Sayap bagi orang lain

Bila Yesus memandang kita dengan cara itu, kita pun diundang memandang orang lain dengan mata yang sama. Kita mudah marah ketika orang berbuat salah, dan kadang kemarahan itu wajar, terutama bila kita sungguh dilukai. Injil tidak meminta kita berpura-pura luka itu tidak ada. Ia hanya meminta kita tidak berhenti pada keinginan menyalahkan, dan tetap merindukan kebaikan bagi orang itu.

Ambil contoh sebuah keluarga yang lelah menghadapi anggota yang terus mengulangi kesalahan yang sama. Mengasihinya tidak berarti membiarkan perilaku yang merusak. Keluarga boleh menarik batas, mencari bantuan, dan melindungi mereka yang terdampak. Semua itu bisa dilakukan tanpa merampas martabatnya dan tanpa menutup pintu bila suatu hari ia mau berubah.

Itulah cara Yesus memandang Yerusalem. Ia tidak menutupi kesalahan kota itu dan menyampaikan peringatan dengan terang. Tetapi di balik peringatan itu terdengar kerinduan seekor induk yang belum menyerah.

Maka pertanyaan hari ini sederhana: bagian mana dari hidupku yang masih kututup terhadap panggilan-Nya? Mungkin ada kesalahan yang perlu diakui, hubungan yang perlu diperbaiki, atau seseorang yang perlu didengarkan sebelum kembali dihakimi. Mungkin juga kita sudah terlalu lama merasa tak layak mendekat.

Rubah masih berkeliaran di sekitar kita, dalam bentuk godaan, kebencian, atau keputusasaan. Melawannya sendirian jarang berhasil. Yesus tidak menjanjikan kandang tanpa rubah. Ia menjanjikan sayap yang terbuka dan tubuh yang rela menanggung terkaman demi anak-anak-Nya. Yang tersisa hanyalah keputusan kita untuk berhenti berlari ke arah yang salah, lalu pulang ke bawah sayap-Nya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *