
“Semua yang diberikan Bapa kepada-Ku akan datang kepada-Ku, dan barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan Kubuang. Sebab Aku telah turun dari surga bukan untuk melakukan kehendak-Ku, tetapi untuk melakukan kehendak Dia yang telah mengutus Aku. Dan inilah kehendak Dia yang telah mengutus Aku, yaitu supaya dari semua yang telah diberikan-Nya kepada-Ku jangan ada yang hilang, tetapi supaya Kubangkitkan pada akhir zaman.”
Yohanes 6:37–39
Banyak dari kita masih menyimpan nomor telepon orang yang sudah meninggal. Namanya tetap ada di daftar kontak, dan fotonya masih tersenyum kecil di pojok layar. Kalau percakapan terakhir dibuka, yang tertinggal sering hanya hal remeh: “Sudah makan?”, “Kabari kalau sudah sampai”, atau “Besok saja kita lanjut.” Besok itu tidak pernah datang. Kita tidak tega menghapusnya, tetapi juga tidak tahu harus berbuat apa dengannya.
Kebanyakan perpisahan memang begitu. Jarang ada yang rapi seperti adegan film, dengan pesan terakhir yang diucapkan pelan di samping ranjang. Lebih sering orang pergi ketika kalimat masih menggantung. Ada maaf yang belum sempat diminta, kunjungan yang terus ditunda, pertengkaran kecil yang belum didamaikan. Sesudahnya, kita berdiri di depan kubur dengan perasaan janggal bahwa kisah itu putus di tengah jalan.
Kita lalu menghibur diri dengan dua cara. “Dia sudah tenang di sana,” kata yang satu, seakan-akan cerita itu otomatis tamat. Yang lain diam-diam bertanya apakah masih ada yang kurang, dan siapa yang akan menggenapinya. Peringatan Arwah hari ini berdiri di antara dua suara itu. Iman Katolik tidak mengaku tahu akhir cerita setiap orang, tetapi ia memegang satu keyakinan: bagi kita, kematian adalah titik; bagi Allah, hari itu belum selesai.
Pekerjaan yang belum rampung
Dalam Injil hari ini (Yoh 6:37–40), Yesus berbicara tentang kehendak Bapa-Nya seperti orang yang tak rela ada yang tercecer. Siapa pun yang datang kepada-Nya “tidak akan Kubuang”. Dari semua yang diberikan Bapa kepada-Nya, “jangan ada yang hilang”. Rasul Paulus mengungkapkan keyakinan yang sama dengan bahasa seorang tukang: Ia yang memulai pekerjaan baik di antara kita akan meneruskannya sampai selesai pada hari Kristus Yesus (Flp 1:6).
Dari sini, ajaran tentang api penyucian bisa dibaca dengan wajah yang lebih ramah. Katekismus Gereja Katolik mengajarkan bahwa orang yang wafat dalam rahmat dan persahabatan dengan Allah, tetapi belum sepenuhnya suci, sudah dijamin keselamatan kekalnya. Sesudah kematian, mereka masih dimurnikan supaya mencapai kekudusan yang dibutuhkan untuk masuk ke dalam kegembiraan surga (KGK 1030). Katekismus juga menegaskan bahwa pemurnian ini sama sekali lain dari hukuman orang terkutuk (KGK 1031). Purgatorium tidak membuka perkara baru. Ia menuntaskan pekerjaan yang sudah dimulai.
Ini juga bukan kesempatan kedua untuk bertobat sesudah mati, dan Gereja tidak mengizinkan kita menebak-nebak siapa berada di mana. Hanya Allah yang mengenal pergulatan seseorang sampai detik terakhirnya. Kita tidak berwenang memastikan, apalagi memvonis. Yang kita kenal hanyalah watak Dia yang bekerja: Ia tidak suka meninggalkan pekerjaan setengah jadi.
Bagi kita, kematian adalah titik; bagi Allah, hari itu belum selesai.
Malam yang tidak kosong
Lalu mengapa pemurnian itu perlu? Kasih yang sempurna menuntut hati yang sungguh bebas, sementara hati manusia jarang sudah bebas ketika napasnya berhenti. Kita mencintai Tuhan, tetapi masih terikat pada pujian, pada rasa benar sendiri, pada dendam yang dirawat diam-diam. Kitab Wahyu menyebut bahwa tak ada yang najis akan masuk ke dalam kota surgawi (Why 21:27). Kalimat itu terdengar keras, sampai kita sadar bahwa pintunya tidak dikunci. Yang menjadi soal adalah mata kita, yang belum sanggup menatap terang sebesar itu.
Santo Yohanes dari Salib, mistikus Spanyol abad ke-16, menamai proses ini “malam gelap”. Ada malam ketika keinginan-keinginan kita dilepaskan satu per satu. Ada pula malam yang lebih dalam, ketika kebanggaan rohani pun ikut diambil: perasaan lebih saleh daripada orang lain, atau rasa dekat dengan Tuhan yang diam-diam kita anggap milik sendiri. Dalam malam itu doa terasa kering dan Tuhan seolah absen. Menurut Yohanes, justru di situlah Allah bekerja di kedalaman yang tak tercapai perasaan, sampai manusia belajar mencintai-Nya semata karena Ia layak dicintai.
Yohanes menulis tentang orang yang masih hidup, dan Gereja tidak menyamakan tahap-tahap mistiknya begitu saja dengan keadaan jiwa di api penyucian. Meski begitu, tulisannya memberi pelajaran yang berharga hari ini: pemurnian tidak harus menunggu liang lahat. Ia sudah terjadi setiap kali kita memaafkan padahal hati masih perih, mengakui salah tanpa banyak dalih, atau tetap setia berdoa meski tidak merasakan apa-apa. Malam semacam itu tidak kosong, sebab ada yang sedang bekerja di dalamnya.
Bunga yang layu, doa yang tinggal
Hari ini banyak dari kita pergi ke makam keluarga, menyalakan lilin, menabur bunga, atau ikut Misa arwah. Semua itu indah dan tak perlu dikecilkan. Namun bunga akan layu dalam satu dua hari, lilin habis dalam beberapa jam, dan nama yang dipahat pun lama-lama dikikis hujan. Yang tidak ikut lapuk adalah doa yang dipersembahkan dengan iman, sebab doa itu kita titipkan kepada belas kasih Allah.
Kebiasaan ini sangat tua. Yudas Makabe mempersembahkan kurban penebusan bagi para prajurit yang gugur supaya mereka dilepaskan dari dosa (2 Mak 12:46). Sejak awal, Gereja menghormati kenangan akan orang mati dan mendoakan mereka, terutama dalam Ekaristi (KGK 1032). Ketika mendoakan mereka, kita mengakui bahwa mereka tetap bagian dari Gereja. Kematian memisahkan tubuh, tetapi tidak memutus ikatan kasih dalam Kristus. Kita yang masih berziarah di dunia, mereka yang sedang dimurnikan, dan para kudus yang sudah memandang Allah, dipersatukan dalam satu persekutuan. Orang-orang yang kita cintai tidak sekadar menjadi bagian dari masa lalu. Mereka kita serahkan kepada Allah yang hidup, yang sanggup mencintai mereka jauh lebih baik daripada kita.
Hari ini juga mengarahkan pandangan ke diri kita sendiri. Suatu hari nama kita pun akan disebut dalam doa orang lain, dan semua kesibukan kita, dengan rencana, pekerjaan, ambisi, dan kegelisahannya, akan sampai pada batasnya. Soalnya bukan kapan saat itu tiba, melainkan sejauh mana hati kita sudah belajar mencintai Allah dengan bebas. Masihkah kita menyimpan kebencian yang enggan dilepas? Masihkah kebahagiaan kita bergantung pada hal yang sementara? Masihkah gengsi menghalangi kita mengaku salah? Atau, jangan-jangan, kita lebih sering meminta Tuhan menyetujui kehendak kita daripada mencari kehendak-Nya?
Pertanyaan itu tidak dimaksudkan untuk menakut-nakuti. Hidup yang sekarang adalah kesempatan berharga untuk bersiap bagi perjumpaan dengan Allah. Surga pun bukan sekadar tempat yang kelak ingin kita datangi. Ia adalah kepenuhan persatuan kasih dengan Allah, yang sudah bisa mulai kita hidupi sejak hari ini berkat rahmat-Nya.
Kematian memotong kalimat kita, kadang tepat di tengah kata. Allah tidak ikut berhenti di titik yang sama. “Barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan Kubuang.” Apa yang Ia mulai dalam diri orang-orang yang kita kenang akan Ia rampungkan, dan apa yang Ia mulai dalam diri kita pun tidak Ia tinggalkan. Karena itu, Hari Arwah adalah hari yang belum selesai, bagi mereka yang sedang disempurnakan dan bagi kita yang masih berziarah. Ujung perjalanan ini bukan makam, tetapi kemuliaan Allah.
